Warga Grobogan, Jawa Tengah menolak eksploitasi sumber mata air yang rencananya bakal digunakan untuk mencukupi kebutuhan air di PT Pungkook Indonesia One.
- Arus Di Gerbang Tol Kalikangkung Padat Tujuan Ke Barat, Para Pemudik Balik Lebih Cepat
- Pasca Lebaran: Lalu Lintas Di Kebumen Meningkat, Pacuan Kuda Jadi Daya Tarik Wisatawan
- Perayaan Syawal 1446 H Meriahkan Karanganyar Dorong Ekonomi Lokal dan Pariwisata
Baca Juga
Warga Karangasem Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan membentangkan puluhan spanduk bertuliskan penolakan eksploitasi sumber mata air Ngesong.
Ketua RT Dusun Tambak, Marno, mengatakan mata air Ngesong merupakan induk sumber mata air yang ada di Karangasem yang berfungsi mencukupi area pemukiman, industri, dan pertanian di Karangasem.
"Kalau nanti sumber dieksploitasi, bagaimana kehidupan warga sini. Dari pengalaman eksploitasi sumber mata air Mudal tidak ada kontribusi untuk masyarakat. Bahkan, saat ini masyarakat sekitar Mudal tak bisa menggunakan sumber mata airnya, karena seluruhnya dialirkan ke pipa," terangnya, Selasa (05/03) siang.
Mereka mengatakan, meski mata air di Ngesong debitnya besar, tetapi saat kemarau produksi mata air tersebut menipis. Hal ini karena mata air Ngesok juga digunakan petani untuk mencukupi kebutuhan tanaman mereka.
"Meski nantinya diberikan akses untuk pertanian, apa mencukupi untuk kebutuhan industri genting bata? Masyarakat sini bergantung pada sumber mata air di Ngesong," imbuhnya.
Dijelaskannya, penolakan juga dilakukan oleh seluruh warga Karangasem, bahkan lebih dari 90 persen warga menolak.
"Dari 45 ketua RT di Karangasem seluruhnya menolak eksploitasi sumber mata air tersebut," ujarnya.
Salah satu pemuda Karangasem, Lusianto, menolak keras rencana eksploitasi tersebut. Menurutnya pemasangan puluhan spanduk adalah bentuk protes warga terhadap rencana penggunaan mata air tersebut.
"Untuk jumlah spanduk yang dipasang sepanjang jalan Karangasem sebanyak 30 spanduk, termasuk di dekat sumber mata air," tambah Lusianto.
Dikatakannya, Karangasem memiliki banyak sumber mata air, namun induk sumber mata air adalah Ngesong. Jika mata air dieksploitasi, dikhawatirkan berdampak pada matinya sumber lainnya.
"Bisa jadi, mata air di Sendang Mudal kering, akibatnya warga se-Kecamatan Wirosari yang saat ini menggunakan air PDAM juga tak bisa menggunakan air. Tolong dipertimbangkan," ungkapnya.
Diketahui, sumber mata air Ngesong digunakan untuk oleh 2.600 Kepala Keluarga (KK) untuk kebutuhan air di pemukiman. Sumber Ngesong juga dimanfaatkan warga untuk menjalankan kegiatan industri genting bata dan mengaliri area persawahan warga.
Kepala Desa Karangasem, Kanto, mengatakan di Karangasem total warga yang memiliki industri sebanyak 2000 pengusaha. Seluruhnya mengandalkan sumber mata air Ngesong untuk menjalankan usahanya. Selain itu, ada 1.700 hektar lahan pertanian yang menggunakan sumber mata air tersebut untuk proses cocok tanam.
"Jenis area persawahan di Karangasem berbeda dengan wilayah lainnya. Sore digenangi air pagi sudah kering, sehingga kebutuhan air tinggi di area pertanian Karangasem," ujarnya.
Selaku kepala desa, pihaknya sudah menyampaikan keluhan warga kepada pihak PDAM dengan melayangkan surat ke PDAM terkait penolakan eksploitasi sumber mata air Ngesong tersebut.
"Informasinya sumber akan dialirkan dengan pipa sebesar 10 dimensi, sehingga masyarakat setempat resah. Guna menindaklanjuti keluhan warga tentang rencana penggunaan sumber mata air Ngesong, secepatnya akan kami kumpulkan untuk agenda Musyawarah Desa Khusus (Musdesus)," terangnya.
Dia berharap pemerintah meninjau ulang dampak eksploitasi sumber mata air tersebut, agar aktifitas industri dan pertanian warga Karangasem tidak mati.
- Viral! Seorang Pria Curhat Ngaku Kena HIV Usai Njajan Di Tempat hiburan
- Kecelakaan Beruntun Libatkan Beberapa Pengendara Motor Terluka
- Libur Lebaran, Agrowisata Telaga Kusuma Tetap Jadi Primadona Wisata