Testimoni Kejayaan dan Asa Membangkitkan Kembali Kebesaran

Elegi Pagi Susuri Makam Syech Mudzakir (3-habis)
Masjid Agung Demak. Jayanto Arus Adi/RMOLJateng
Masjid Agung Demak. Jayanto Arus Adi/RMOLJateng

Masjid Agung Demak dengan segala khasanah kebesaran adalah jejak peradaban. Demak masa lalu adalah masterpiece yang menjadi afirmasi dan legacy prestasi gemilang masa itu. Raden Patah ikon sekaligus lokomotif yang menghela pergerakan luar biasa. Pengaruhnya tak sebatas tlatah Jawa, namun diakui seluruh Nusantara.


Menandai kiprahnya, Raden Patah telah membuktikan eksistensinya sebagai pemimpin aliansi Jawa, dan juga Sumatera.

Aliansi Jawa membentang dari Gresik, Keling, Demak sendiri hingga Cirebon, bahkan sampai Sunda Kelapa. Ada pun aliansi Sumatera wilayahnya mulai dari Aceh, Pasari, Minangkabau, Sriwijaya, Jambi sampai Tanjung karang.

Sebagai pemimpin aliansi itu, Raden Patah punya pengaruh besar. Ketokohan dan kepemimpinannya itu dibuktikan ketika mereka berperang melawan Portugis di Malaka. Di bawah komando Panglima Perangnya, Fatahilah mereka menyerang Malaka.

Sayang di perang ini aliansi Demak kalah. Portugis mencegat pasukan gabungan, yakni aliansi Jawa dan Sumatra sebelum sampai di darat.

Portugis sadar mereka akan kalah jika pasukan Fatahilah sampai mendarat dan terjadi perang darat. Ikhwal itulah yang membuat kekalahan ketika penyerbuan ke Malaka.

Kekalahan Demak saat mengusir Portugis di Malaka berdampak luas. Perdikan Glagah Wangi yang diyakini menjadi pusat Kerajaan Demak Islam berangsur surut. Jejak kejayaan yang sempat diungkap Tome Pires lewat Summa Oriental tak luput menjadi tenggelam. 

Untuk diketahui kerugian akibat penyerbuan ke Malaka sangatlah besar. Prajurit yang gugur jumlahnya mencapai ribuan.

Gabungan Aliansi Jawa, dan Sumatra yang dipimpin Fatahillah mengerahkan tidak kurang dari 300 kapal. Hampir seluruh kapal dipukul hancur, artinya tidak ada prajurit yang selamat. 

Andai satu kapal punya kapasitas 100 saja, perang itu menewaskan 3000 ribu prajurit. Belum lagi kerugian materiil jumlahnya mencapai jutaan gulden. 

Summa Oriental meski tak secara spesifik mengulasnya, tetapi berita tentang Demak sebagai Kerajaan Makmur menjadi lumbung pangan jelas sekali disebut di sana.

Abad 14-15 ekspor Demak ke Malaka sangatlah besar. Kesaksian Tome Pires ini berkesuaian dengan pertanian Demak yang begitu subur. Demak dapat memanen pada setahun sampai tiga kali, sementara Sriwijaya hanya mampu dua kali. 

Dengan potensi seperti itu, maka Demak diyakini sangat Makmur. Besarnya pengaruh Demak menjadi pemimpin aliansi nusantara mendapat afirmasi karena kekuatan ekonominya juga.

Fakta lain juga memberikan testimoni yang sama, seperti Semarang, termasuk menjadi bagian dari teritori Demak. Ketika Demak sudah berkibar dan menjadi pusat peradaban Semarang masih dalam perintisan. 

Ki Ageng Pandanaran I waktu itu yang diutus Sunan Kalijaga untuk melakukan syiar. Menilik benarang merah alur sejarah di atas perlu kajian dan penelitian mendalam, mengapa jejak Demak justru surut. 

Ada missing link di sini. Sisi gelap yang hilang inilah menjadi pekerjaan rumah untuk ditelusuri. Misteri yang tetap menjadi tabir gelap adalah di mana ibukota Demak Bintoro itu sendiri. Sejumlah pakar menyebut lokasi Kerajaan Demak ada di Glagah Wangi.

Namun pendapat itu masih menjadi hipotesis awal, karena logika historis, dan jejak arkeologisnya tidak relevan.

Lazimnya kota kota tempo dulu selalu bersisihan dengan laut, ada Pelabuhan di sana. Uji arkeologis terkait Demak tidak ditemukan benang merah di antara keduanya.

Misteri lain yang juga menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa jejak Demak seperti hilang begitu saja. Di manakah pusat pemerintahan Demak tempo dulu?.

Jika lokasi Masjid Agung yang dibangun para wali, seperti di lokasi sekarang, lantas di makah pelabuhan Demak itu sendiri.

Sebagai lumbung padi, dan menjadi eksporter beras terbesar kala itu pasti ada pelabuhan besar di Demak.

Jika melihat kondisi actual yang terjadi sekarang, yakni Semarang berkembang lebih maju, sementara Demak mengalami kemunduran, apa sesungguhnya yang terjadi.

Saat ini ribuan, atau mungkin jutaan pengunjung datang ke Kota Wali untuk berziarah, tapi kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat masih jauh api dari panggang. 

Sebagai lumbung pangan pertanian Demak juga belum menjadi kekuatan yang mampu menghadirkan posisi tawar.

Ironis dan menjadi paradoks zaman pusat peradaban yang berjejak ratusan tahun masih menghadapi problematika klasik seperti sekarang.  

Pasti ada yang salah di sini, catatan ini adalah sebuah upaya identifikasi langkah langkah dan terobosan yang harus dilakukan Renaisance Demak barangkali perlu digaungkan agar kejayaan kembali direngkuh. 

Selamat datang Demak baru, selamat menapaki kejayaan kembali.