Ramadan Jalan Menuju Reformasi Pemerintahan yang Bersih

Oleh : H. Sariat Arifia
Ilustrasi/AI by H Sariat Arifia
Ilustrasi/AI by H Sariat Arifia

Bulan Ramadan, dengan ibadah puasa yang diwajibkan sudah kita lalui. Namun menangkap pesan akhir dari Ramadhan yakni Kebersihan Jiwa dan kembali Fitrah, jauh melampaui dari prasangka banyak orang banyak puasa di bulan Ramadhan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga dan kumpul kumpul dalam acara buka puasa bersama untuk kemudian mudik bareng.


Ramadan adalah madrasah jiwa, yang di dalamnya memuat sistem pelatihan intensif yang dirancang untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit rohani.  

Di awali melalui menahan haus dan lapar, dan juga bertadarus merupakan rangkaian awal dari penciptaan karakter Kesabaran, kejujuran, dan empatik yang dipupuk dengan saksama.

Sebaliknya sifat-sifat tercela seperti keserakahan, keangkuhan, ketidak jujuran dan apapun seluruh penyakit yang berselimut di dalam dada di kikis secara perlahan dan terus menerus. 

Di penghujung Ramadan, kewajiban menunaikan zakat fitrah melengkapi siklus penyucian ini. Zakat fitrah bukan sekadar ritual, tetapi juga mekanisme penyucian bagi individu yang berpuasa, menghapus perbuatan sia-sia sekaligus memenuhi kebutuhan kaum dhuafa. 

Membayar zakat merupakan pesan kuat bahwa harta adalah titipan, dan sebagian darinya adalah hak orang lain. Zakat fitrah menanamkan prinsip tanggung jawab dan akuntabilitas atas sumber daya yang dimiliki.

Oleh karenanya Bulan Ramadhan menjadi waktu yang sakral sebagai Proses “penggemblengan jiwa” untuk membentuk individu yang bersih dan berintegritas berintegritas. 

Individu yang bersih dan berintegritas inilah yang saat ini dibutuhkan negara dan diharap harapkan oleh Masyarakat banyak sehingga tercipta Pemerintahan yang bersih yang meghasilkan Good governance.

Dalam realita, tidak akan ada pemerintahan yang bersih kalau individu yang ada sebagai pengelolanya punya penyakit di dalam hati berupa keserakahan yang tidak pernah selesai dan merasa bahwa sumber daya yang dimiliki bukan hak rakyat banyak tapi sebagai miliknya pribadi. 

Karenanya walaupun ada batu besar sebagai tantangan bagaimana menginternalisasikan nilai2 agama ke dalam praktik tata kelola pemerintahan yang sangat kompleks, namun upaya ini tetap harus di jalankan. 

Kita sudah mengetahui paradoks bahwa justru negara negara Yang melakukan praktik praktik Islami justru adalah negara negara yang tidak bermayoritas beragama Islam. 

Hal ini tentunya bukan karena kekeliruan pada Islamnya atau hukum hukum islamnya, namun lebih masih perlunya lebih kuat lagi institusionalisasi nilai nilai yang luhur baik bersumber pada praktek hukum Islam diantaranya adalah nilai kebersihan jiwa dan diri yang di hasilkan selama Bulan Ramadhan. 

Langkah-Langkah Konkret Menuju Pemerintahan Bersih Melalui Nilai Ramadhan

Untuk mewujudkan tata kelola yang bersih dan berakar pada nilai-nilai Ramadhan, diperlukan transformasi dan integrasi nilai-nilai ini ke dalam kebijakan, prosedur, dan budaya pemerintahan. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:

1. Identifikasi Nilai Inti yaitu Kebersihan jiwa, amanah, keadilan, dan pelayanan yang diidentifikasi sebagai nilai-nilai utama dalam tata kelola.

2. Mengimplementasikan Nilai dalam Perilaku. Di awali dari mendefinisikan nilai-nilai tersebut kemudian di wujudkan dalam tindakan konkret di semua tingkatan pemerintahan. Contohnya, amanah dapat diwujudkan dalam pengelolaan anggaran yang bertanggung jawab dan transparan.

3. Integrasi Nilai dalam Kebijakan: Tinjau regulasi, kode etik, dan SOP untuk mencerminkan nilai-nilai tersebut secara eksplisit.

4. Pelatihan Berbasis Nilai: Selenggarakan pelatihan yang fokus pada internalisasi nilai-nilai integritas dan etika, didukung oleh studi kasus nyata.

5. Penilaian Kinerja Berbasis Nilai: Bangun sistem evaluasi kinerja yang mengukur perilaku pejabat dan staf berdasarkan nilai-nilai integritas.

6. Keteladanan Pemimpin: Pemimpin di semua tingkatan harus menjadi contoh nyata dalam menerapkan nilai-nilai ini. Tidak akan ada sistem yang berjalan dengan baik kalau pemimpinnya tidak memberikan contoh!

7. Mekanisme Pelaporan yang Transparan: Sediakan saluran pelaporan dugaan pelanggaran dengan proses yang adil dan transparan.

8. Keterlibatan Masyarakat: Libatkan masyarakat dalam mengawasi jalannya pemerintahan guna memastikan akuntabilitas.

9. Evaluasi Berkelanjutan: Lakukan peninjauan dan perbaikan secara berkala untuk memastikan relevansi dan dampaknya.

10. Desain Konteks Tata Kelola: Ciptakan ekosistem tata kelola yang mendukung nilai-nilai budaya dan spiritual melalui lingkungan kerja, ritual, insentif, dan norma sosial.

Dengan menjadikan Ramadan sebagai inspirasi untuk membangun tata kelola bersih, kita tidak hanya menciptakan sistem pemerintahan yang transparan dan adil, tetapi juga meningkatkan kepercayaan rakyat kepada negara. 

Pemerintahan yang bersih dan berintegritas akan memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh rakyat, memastikan nilai-nilai yang dianut menjadi nyata dalam praktik sehari-hari. 

Ramadan menjadi simbol dan realisasi dari upaya penyucian, membentuk individu dan masyarakat yang lebih baik—prinsip yang harus melekat dalam tubuh pemerintahan. 

Apabila ini bisa terwujud, maka pemerintahan yang bersih sudah bukan Cuma omon omon belaka. Insya Allah, Semoga ini bisa terwujud!.