Menggunakan OCB untuk Menjawab Tantangan AI

Pemerhati Telematika, Multimedia sekaligus AI dan OCB, Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes
Pemerhati Telematika, Multimedia sekaligus AI dan OCB, Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes

Artificial Intelligence (AI) adalah sebuah keniscayaan, suka atau tidak, cepat atau lambat, penggunaan teknologi kecerdasan buatan ini akan semakin masuk dan mengambil peran, untuk tidak menggunakan istilah "menggerogoti" tugas-tugas biasa dilakukan oleh manusia.


"Mulai dari maraknya ChatGBT digunakan oleh awak media, sampai tampilnya Presenter AI (Anya, Devano, Nadira, Sasya, Jhoni dkk) sudah mulai menjadi "santapan sehari2" masyarakat, sehingga mulai muncul kekhawatiran dan berbagai pertanyaan "Akankah di suatu saat peran anusia benar-benar tergantikan oleh Teknologi bahkan kesemuanya diambil-alih oleh robot-robot cerdas semacam ini?," ungkap Pemerhati Telematika, Multimedia sekaligus AI dan OCB, Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes, Selasa (30/1). 

Pertanyaan ini tentu tidak bisa disalahkan, karena meski sampai saat ini AI atau robot masih dikatakan " belum memiliki emosi". Namun sedikit banyak sudah muncul konsep Humanoid (gabungan manusia dan robot, dimulai dengan era cyborg) sedikit demi sedikit bisa menggunakan algoritma bernuansa emosional tersebut. 

Sehingga kalau dulu AI atau robot ini masih terlihat "letterlijk" alias kaku sesuai dengan program diisikan, mendatang mereka sudah akan benar-benar bisa belajar jauh lebih humanis dibandingkan dgn AI atau robot-robot jaman awal terdahulu. Sehingga meski manusia menjadi lebih dimudahkan di era Society 5.0, namun era disrupsi teknologi ini pasti menimbulkan ancaman bagi sebagian masyarakat, terutama gagap terhadap kecanggihan tersebut. 

Oleh karena itu, kata dia, sebagai insan manusia dibekali kemampuan untuk berpikir oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT- akan "menyerah" begitu saja seperti pada Film Terminator akhirnya bumi dikuasi makhluk-mahkluk semula buatan manusia sendiri tersebut? Tentu saja tidak. Meski harus diakui bahwa sangat banyak sisi positif penggunaan AI atau Robot ini dimasa depan, namun sisi negatifnya jangan dilupakan. Apalagi memang ada orang-orang yang sengaja mau memanfaatkan untuk tujuan tersebut, misalnya penyalahgunaan AI utk politik seperti saya contohkan kemarin (Menghidupkan kembali mantan Presiden Indonesia untuk kampanye politik atau memanipulasi suara ketum partai dan capres tertentu).

Jadi media atau instansi tertentu harus melakukan pemanfaatan secara maksimal semua variabel yang bisa digunakan untuk mendorong OCB. OCB merupakan konsep menekankan pada perilaku ekstra individu di dalam organisasi. OCB meliputi perilaku-perilaku seperti membantu rekan kerja, memegang tugas yang tdk tercantum dalam deskripsi pekerjaan, dan mempromosikan suasana kerja positif. Perilaku ini tidak diwajibkan oleh deskripsi pekerjaan atau aturan organisasi, tetapi bertujuan untuk mempromosikan suasana kerja positif dan membantu organisasi mencapai tujuannya. 

"OCB memiliki dampak positif pada hasil organisasi, seperti kinerja, produktivitas dan moral karyawan. Dengan kata lain, faktor humanis dikedepankan sebagai keunggulan manusia (sementara ini) terhadap maraknya teknologi AI atau robot," terang Lulusan Prodi S3 IM-UNJ dengan Predikat  Summa Cum Laude" 2024.

Beberapa faktor mempengaruhi OCB meliputi budaya organisasi, gaya kepemimpinan dan kondisi kerja. Kepemimpinan dapat mempromosikan OCB melalui pemahaman, dukungan dan pengembangan budaya organisasi.

Pengukuran dan penilaian OCB dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan survei dapat mengukur perilaku seperti membantu rekan kerja, menunjukkan loyalitas, dan mempromosikan suasana kerja positif. Hasil dari pengukuran ini dapat digunakan untuk mempromosikan perilaku positif dan memperkuat budaya organisasi. Jadi dengan memahami definisi dan konsep OCB, organisasi dapat mempromosikan perilaku-perilaku positif membantu mencapai tujuannya dan memperkuat budaya organisasi disebuah media atau institusi tersebut. 

Ada beberapa dampak positif dapat diterima oleh organisasi dari perilaku OCB dari karyawannya. Antara lain kinerja organisasi, moral karyawan, kepuasan kerja, lingkungan kerja & reputasi organisasi. Jadi disini memang saya menekankan "perbedaan" sifat manusia dan mesin ini dapat menjadi peluang paling tepat saat ini utk menjawab tantangan AI. Meski tentu saja hal ini tidak bisa berlaku selamanya karena teknologi terus berkembang dan semakin canggih untuk benar-benar mendekati, menyamai atau bahkan melebihi dari manusia itu sendiri. 

Demikian juga ada beberapa faktor mempengaruhi OCB dari karyawan, antara lain adalah  budaya organisasi, gaya kepemimpinan, kondisi kerja, reward dan sanksi, konsep diri dan keterikatan organisasi saling berbeda-beda.

Hal lain masih bisa membedakan antara manusia dan mesin disini termasuk adanya perbedaan budaya dalam dalam OCB, karena budaya memegang peran penting dalam OCB karyawan. Beberapa perbedaan budaya tersebut adalah individualisme vs kolektivisme, masculinity vs femininity, individual power distance, collectivism power distance. 

Artinya masing-masing perbedaan "khas manusia" ini yg justru dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam OCB perusahaan media atau institusi. Jadi saat ini yang harus dimanfaatkan, termasuk oleh pemerintah dalam hal membuat kebijakan atau peraturan-peraturan. Misalnya BRIN menyusun Program Strategis Nasional 2022-2045 harus bisa melihat faktor-faktor perbedaan ini sebagai titik krusial untuk menjawab tantangan jaman agar kebijakan diterbitkan nantinya tidak malah kontraproduktif dengan kemajuan jaman itu sendiri.

Kesimpulannya, Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah perilaku ekstra dilakukan oleh karyawan tidak termasuk dalam tugas utama mereka, tetapi membantu meningkatkan hasil organisasi. Dalam hal ini tugas-tugas yang sementara belum dapat diambil-alih sepenuhnya oleh teknologi robot atau AI. OCB dapat mempengaruhi kesejahteraan karyawan, kepuasan kerja, komitmen organisasi, dan banyak faktor lain yang mempengaruhi hasil organisasi.

Kepemimpinan memainkan peran penting dalam mempromosikan OCB dan budaya organisasi mempengaruhi perilaku OCB karyawan. Organisasi harus memahami pentingnya OCB dan berusaha untuk mempromosikan perilaku positif karyawan agar dapat mencapai hasil terbaik. 

Disinilah peran manusia masih benar-benar nyata dan memiliki marwah tersendiri untuk tidak begitu saja menyerah dihadapan teknologi AI, IoT dan robot. Semoga.