Korupsi di Pertamina terbongkar ke publik dan berdampak merugikan negara sebesar Rp 193,7 triliun. Sungguh mencengangkan, korupsi itu masyarakat dibodohi membeli bensin non subsidi jenis Pertamax, padahal ternyata bahan bakar minyak (BBM) tersebut hasil oplosan Pertalite RON 90 (subsidi) dicampur sehingga jadi BBM non subsidi.
- Blora Bakal Sulap Sampah Jadi Bahan Bakar
- Gregetan Lihat Sampah, Ketua DPRD Jateng Gelontorkan Anggaran Rp10 Miliar
Baca Juga
Negara mengalami kerugian besar dengan nilai fantastis, belum lagi masyarakat sebagai pengguna bahan bakar.
Menyikapi kasus tersebut, Pengamat Transparan Djoko Setijowarno menjelaskan, secara tegas, hal itu adalah pembodohan terhadap konsumen dan kemungkinan sudah sejak dulu.
Masyarakat selaku konsumen tidak mendapatkan haknya memperoleh bahan bakar non subsidi yang secara kualitas unggul dan lebih baik, tetapi hanya mendapatkan bensin campuran.
"Rugi sekali jika membicarakan nilai keekonomian karena masyarakat tidak memperoleh dengan biaya sudah dikeluarkan untuk membeli bahan bakar. Jika secara pemikiran sudah tidak ingin menggunakan subsidi, itu kan rugi, mereka mengeluarkan uang untuk membeli bahan bakar yang tidak sesuai kualitas aslinya," jelas Djoko, Rabu (26/2).
Bagi konsumen masyarakat pengguna bahan bakar, Djoko menilai, bila konsumsi biaya pembelian bahan bakar dibelikan Pertamax namun malah mendapatkan Pertalite 'di campur', sama dengan beli lauk tempe tetapi membayar memilih ayam di kasir.
Itu, kata Djoko, menggambarkan permainan bisnis yang terlalu merugikan konsumen. Umumnya, konsumen memilih Pertamax karena kualitas lebih baik meskipun harganya lebih mahal.
Berkaca dari kondisi di masyarakat, Djoko menambahkan, saat ini banyak orang memilih menggunakan bahan bakar non subsidi mengingat zaman sekarang mulai banyak yang peduli perawatan kendaraan.
Sehingga, terbongkarnya korupsi tersebut seperti racun, meski tidak langsung membunuh tetapi menyakiti dan dirasakan banyak orang.
"Efeknya yang terasa, pilihan banyak orang sebagai konsumen tidak menggunakan bensin subsidi karena sadar 'mampu' untuk beli yang lebih berkualitas. Malah terkena bisnis permainan semacam itu, negara rugi tetapi masyarakat jauh lebih dirugikan. Itu bisa dibilang seperti racun tidak langsung membunuh tetapi menyakiti dan lama-kelamaan juga jatuh sakit sampai hancur rugi sendiri. Konsumen pun butuh kepastian, membeli mendapatkan yang sesuai," terang Djoko.
Akibat korupsi ketahuan ini, Djoko berharap, konsumen semakin bijak dan cerdas. Tidak sekedar memilih dari cukup menakar-nakar harganya lebih mahal tetapi juga perlu sebaiknya menyakinkan diri dengan pilihan terbaik.
"Saran saja sih, mending beli semampunya sebagai konsumen. Tidak asal menentukan karena yakin kualitas, tetapi lebih dari itu penting diperhatikan adalah keyakinan diri kita sebagai konsumen cerdas, maka bijak sebelum memilih sesuatu," pesan dan saran Djoko Setijowarno.
- Blora Bakal Sulap Sampah Jadi Bahan Bakar
- Raih Penghargaan dari KPK, Bupati Wonogiri Makin 'Nafsu' Cegah Korupsi
- 2 Koruptor Pembangunan Gedung SDN 2 Sumurgede Grobogan Divonis 2,6 dan 1,3 Tahun Penjara