Siapa menguasai Jakarta, maka dia akan menguasai Indonesia. Adagium ini menjadi sebuah testemoni sekaligus exercise yang eskalasinya cenderung meningkat di perdikan Sunda Kelapa ini.
Siapa menguasai Jakarta, maka dia akan menguasai Indonesia. Adagium ini menjadi sebuah testemoni sekaligus exercise yang eskalasinya cenderung meningkat di perdikan Sunda Kelapa ini. Meski belum menjadi sebuah legacy final, tapi melihat opini yang marak simpulannya dapat dibaca arah ‘takdir’ nasib sang kampiun retorika, yakni Anis Baswedan. Artinya memaknai premis tersebut, meski belum menjadi representasi utuh, tapi secara simbolik dapat dijadikan jalan pembuka menyusun puzle atas dinamika politik yang muncul.
Suksesi Lurah Sunda Kelapa untuk menyebut DKI Jakarta kali ini merangkum dimensi yang penuh kejutan . Momentum yang beririsan timingnya dekat dengan 2024 di mana suksesi nasional juga jatuh tanggal. Relasi inilah yang menghadirkan beberapa kalkulasi, secara politik misalnya, potensi tsunami ikutan diprediksi akan mengikuti. Fenomena yang menyolok adalah terkait riak riak yang lepas dan menjadi gempa politik dengan magnitudo tinggi. Kalkulasi ini wajar karena tiket Jakarta Satu menjadi semacam pintu untuk masuk di gelanggang Kurusetra yang lain.
Untuk diketahui aroma seperti ini terjadi juga ketika Anis - Sandi naik tahta. Blunder kasus Ahok gegara ceramahnya di Kepulauan Seribu menjadi ruang singgah, persisnya bola muntah yang lantas digoreng goreng. Kubu petahana yang menominasikan Ahok-Jarot tumbang lantaran digempur perlawanan tanpa wujud oleh kelompok kelompok yang disatukan kareba kesamaan syahwat politiknya. Maaf istilah ini kurang begitu jelas terminologi juga kelaminnya karena senyawa yang terjadi lebih bersifat abu abu, alias juga tak jelas.
Sedikit menengok ke belakang suksesi DKI adalah bentu dramaturgi yang kemudian menjadi tragedi politik akbar sekaligus paradok akal sehat. Secara logika dapat juga dikatakan bahwa pilkada dki merupakan potret paling buruk demokrasi langsung di negeri ini. Dan kasus ini merupakan pelajaran paling berharga kuasa rakyat, tak selalu menjadi manifestasi kuasa Tuhan. Bayangkan betapa gaduhnya ketika itu, nyaris demo tiada henti dan menjadi berjilid jilid.
Secara kepartaian PDI Perjuangan menjadi pihak yang paling terang alamatnya sebagai tujuan. Moncong putih sendiri sebenarnya menjadi tak lebih dari kambing hitam. Dan ini harus benar benar menjadi pelajaran bahwa di era disrupsi seperti sekarang opini publik tidak dapat dipandang sebelah mata. Strategi media adalah jurus ampuh, meski bukan segala galanya. Tapi melalui Pilkada DKI ketika itu kita dapat sebuah pelajaran berharga.
Betapa tidak figur dengan tingkat kepuasan di atas 70 persen, tapi tumbang oleh figure yang hadir atas mobilisasi dukungan, meski secara hitam putih tak memiliki portofolio memadai sebagai pemimpin, maaf apalagi Gubernur DKI. Maaf ketika itu Anis Baswedan adalah pihak yang jika diraport nilainya merah. Cerita Anis nyaris sama persis dengan perjalanan Ganjar Pranowo di Jateng. Anis dan Ganjar – maaf- adalah figur yang rekam jejaknya tak elok elok amat. Anis ketika itu banyak disorot dugaan penyelenggaraan Pameran Buku di Jerman yang tak beres. Begitu pun Ganjar dugaan atas keterkaitannya dengan kasus E-KTP masih jadi stigma.
Artinya menghitung kekuatan secara aple to aple Anis vs Ahok, dan Ganjar vs Bibit bukanlah dua entitas yang dapat diposisikan sebagai altenatif pilihan. Tapi itulah simalakama demokrasi langsung, pendulum keberpihakan rentan dan rawan diputarbalikkan. Maju tak gentar membela yang bayar, atau mobilisasi politik identitas merupakan jualan yang paling gampang dirakit. Kini kita lihat bagaimana DKI, pun juga bagaimana Jawa Tengah? Statistik menunjukkan prestasi ekonominya jauh dari membanggakan. Angka kemiskinan terbilang tinggi, apalagi ketika dikaitkan dengan janji kampanye mereka.
Lalu mengapa mereka bisa mendapat tiket menjadi lurah. Idealisme mengalami deflasi, dan hati nurani seperti mati. Tesis ini menjadi axioma yang jangal tapi andal sebagai jembatan menghantarkan Anies menjadi ‘Abang Jampang’ di perdikan Sunda Kelapa. Pertanyaan kemudian, apakah fenomena ini bakal terjadi lagi pada suksesi DKI Satu mendatang. Siapakah yang dapat memilin konfigurasi dengan berupa rupa kiat strategi, sekaligus arif juga rendah hati?
Pertanyaan kemudian, apakah PDI Perjuangan telah belajar dan memetik hikmah atas kesalahannya di masa lalu? Aneh bin ajaib kandidat yang memiliki akses luar biasa, dengan portofolio dahsyat tetap saja tumbang. Kurang apa dengan Ahok, bayangkan tokoh yang mendampingi RI satu, bisa kesingsal dalam Kurusetra di episentrum elit kekuasaan. Ahok sesungguhnya adalah sukses story yang cukup menginspirasi, datang dari jauh, berlatar belakang etnis Tionghoa, pernah menjadi Bupati, kemudian anggota DPR RI akhirnya dipilih Jokowi mendampingi menjadi DKI Dua. Sungguh perjalan elok yang menghadirkan banyak mimpi. Tapi realitass sebagai nasib publik dapat menyaksikan sendiri.
Karenanya suksesi mendatang PDI Perjuangan harus lebih smart, lebih populis, dan tentu tidak bisa sembrono. Bagi moncong putih DKI Satu adalah Tobe or Not Tobe. Beragam kalkulasi menjadi sebuah ikhtiar yang tidak bisa tidak harus diperjuangkan sampai titik darah terakhir. Artinya ini benar benar no point to return.
Kalkulasi mendasar yang harus dipahami adalah momentum ini sangat penting bagi PDI Perjuangan ke depan. Karena apa, secara kepartaian bagi PDI Perjuangan, juga Indonesia Number One alias RI Satu memiliki irisan yang sangat lekat. Siapa yang menjadi DKI Satu akan sangat menentukan keberhasilan PDI Perjuangan melakukan transformasi internal, sekaligus membuka akses untuk menyokong siapa figur mendapatkan tongkat estafet setelah Jokowi lengser.
Menilik kalkulasi ini lantas siapa yang akan ditugaskan menjadi gladiator di Kurusetra ini. Menurut hemat saya PDI Perjuangan tidak bisa lagi dalam posisi menunggu. Strategi yang perlu diintensifkan dalam konteks ini tidak lain adalah ‘The Defence is Strong Offence’. Spirit ‘Kembalikan Jakartaku Padaku’ harus dicanangkan menjadi hymne kolosal. Ibaratnya sebuah kompetisi, maka jago jago andalan harus terus digembleng. Mereka harus unjuk prestasi pada publik, dan partai menjadi dirigen yang mampu menyalakan asa.
Pemimpin pemimpin daerah yang menginspirasi atas karya dan kepemimpinannya harus didorong tampil di Kurusetra ini. Sukses story Presiden Jokowi adalah contoh yang sangat baik, karena benar benar menginspirasi dan menjadi role model ideal. Kematanagn dan kemapanan beliau menjadi Presiden tak lepas karena jam terbang yang telah dilalui. Aspek inilah secara moral Jokowi tidak bisa tidak harus cancut tali wondo bagaimana suksesi ini menghasilkan pemimpin yang tepat.
Dengan segala plus minusnya, tentu dengan koreksi koreksi atas kekurangan yang terjadi partai bagaimana pun tetap menjadi Kawah Candradimuka tempat menempa calon calon pemimpin bangsa. Sebagai partai pemenang Pemilu PDI Perjuangan juga dituntut mengambil Prakarsa dalam konteks ini. Bagaimana kepala kepala daerah berprestasi menjadi figur yang harus diberi kesempatan.
Keberhasilan Jokowi membangun Solo menjadi portofolio nyata. Artinya publik dapat melihat aspek ini sebagai sebuah testemoni agar tidak terjebak seperti membeli kucing dalam karung. Keberanian Jokowi menerabas pakem, dalam menyusun kabinet tidak lepas dari intuisinya bagaimana membangun sebuah visi bangsa. Kita mencatat ada Susi Pudjiastuti, kemudian Nadiem Makarim, kemudian Sri Mulyani dan Retno Marsudi.
Ahok meski gagal sebagai lurahnya Sunda Kelapa, di periode kedua, dia sesungguhnya telah membuat jejak yang layak dibanggakan. Sebagai sebuah catatan, mereka yang menjadi ‘Lurah Sunda Kelapa’ tidak datang dari tokoh flamboyant, seperti Anis, namun lebih tepat bupati atau walikota yang telah memiliki rekam jejak nyata juga jam terbang yang teruji. Ibarat pilot mereka adalah sebuah monument dengan karyanya, bukan sekadar pemimpi yang masih harus menunjukkan jejaknya.
Di sini saya mencoba mencatat prestasi elok kepala daerah yang sudah menorehkan tinta emas dalam kiprahnya. Mantan Bupati Banyuwangi Azwar Anas termasuk pemimpin yang mampu mendinamisir daerahnya. Karena itu Kofifah sempat kesengsem meliriknya untuk menjadi Wakil Gubernur. Tokoh lain yang juga kinclong prestasinya di kancah nasional adalah Walikota Semarang Dr Hendrar Prihadi, MM.
Hendi panggilan akrab tokoh ini merangkak dari nol, tapi debutnya luar biasa. Tidak hanya di level local dia jawara, karena di tingkat nasional, bahkan internasional prestasinya diakui. Keberhasilannya menyulap Kota Lama membuat Eropa, khususnya Belanda terbelalak. Kota Lama Semarang sungguh sungguh sungguh elok elok.
Karena prestasinya itu di periode kedua doktor dari Undip yang mengambil desertasi soal Smart City untuk periode kedua praktis tiada lawan. Sepuluh partai mendukungnya dengan peroleh suara di atas 90 persen. Tanpa bermaksud menjagokan Hendi berlebihan, tetapi dia sangat layak menjadi tokoh untuk memimpin Sunda Kelapa.
Tokoh lain yang namanya mulai diperhitungkan adalah Gibran, dia tak lain putra presiden yang sekarang menjadi Walikota Solo. Diam diam Gibran yang di awal awal komunikasinya cenderung masih kaku, kini mulai matang. Hanya saja Gibran memang masih perlu menambah jam terbang. Apalagi kalau untuk berlaga di Kurusetra Sunda Kelapa dia masih seumur jagung menjadi Walikota Solo.
Nama Risma Trismaharani mantan Walikota Surabaya yang kini menjadi Menteri Sosial, dia punya kapasitas juga. Srikandi asal Surabaya ini terkenal tangguh. Andai bukan seorang Wanita kans Risma cukup terbuka. Handycup lain dari Risma adalah sikapnya yang emosional dan temperamental, salah salah dia akan mengalami nasib seperti Ahok.
Nah, dari nama nama di atas, PDI Perjuangan sekali lagi harus dapat mengambil prakarsa. Jangan sampai pendulum justru diambil oleh pihak lain. Sekali lagi misi ‘Kembalikan Jakartaku Padaku’ bukanlah mimpi di siang bolong. Meski perjuangan dan ikhtiar ke sana juga tidak ringan.
Jayanto Arus Adi
Pemimpin Umum RMOL Jateng. Mahasiswa program Doktor Unnes Semarang, dan Tenaga Ahli DPR RI Komisis II.
- 10 Ribu Anggota Aliansi Merah Putih Akan Kepung MenPAN 18 Maret Mendatang
- Bang Lukman Minta TransJakarta Segera Perbaiki Fasilitas Publik yang Rusak
- Yuli Hastuti dan Dion Agasi Bagikan Momen Gladi Pelantikan Kepala Daerah