Festival Tari Jaran Kepang Jawa Tengah, 12 Grup Tampil Memukau

Festival Tari Tradisional Jaran Kepang ini berlangsung di aula Museum Ronggowarsito Semarang Kamis (25/7). Wahyu Sulistyawan/RMOLJateng
Festival Tari Tradisional Jaran Kepang ini berlangsung di aula Museum Ronggowarsito Semarang Kamis (25/7). Wahyu Sulistyawan/RMOLJateng

Sebanyak 12 grup kesenian tari tradisional dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti festival tari tradisional Jaran Kepang. Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah ini berlangsung di aula Museum Ronggowarsito Semarang pada Kamis (25/7).


Budi Santoso dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng menjelaskan bahwa peserta yang hadir merupakan finalis dari puluhan peserta yang diseleksi secara daring. 

"Festival tari Jaran Kepang ini dimulai dengan seleksi secara daring karena antusiasme peserta yang ingin ikut sangat tinggi," kata Budi di sela acara.

Dia menjelaskan, delapan daerah yang lolos ke babak final yaitu Banyumas, Banjarnegara, Temanggung, Kabupaten Semarang, Cilacap, Pekalongan, Kendal, dan Klaten. Masing-masing daerah mengirimkan satu atau dua wakil dari grup kesenian daerah asalnya.

Beberapa grup yang tampil di antaranya Kridha Tamtama Satria dari Banyumas, Manunggal Karsa Budaya Raras Irama dari Kabupaten Banjarnegara, Kesenian R35 dari Klaten, Sanggar Seni Tari Kemrincing dari Kabupaten Semarang, dan Sanggar Tari Metta dari Kabupaten Semarang. 

Sesi berikutnya diisi oleh grup Kesenian Panji Budoyo dari Kendal, Eko Kapti Turonggo Seto dari Kendal, dan Warogo Teronggo Putro dari Pekalongan. 

Di sesi terakhir, tampil grup Kesenian Satria Bumi Pala dari Temanggung, Irama Greget dari Temanggung, Mekar Kencana Budoyo dari Cilacap, dan Wahyu Leluhur dari Banjarnegara.

Budi menegaskan bahwa acara yang digelar merupakan bagian dari tupoksi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng dalam rangka melestarikan seni budaya, khususnya kesenian tari Jaran Kepang. 

"Ini merupakan kewajiban kami sebagai dinas kebudayaan untuk melestarikan seni budaya dan meningkatkan indeks pembangunan kebudayaan di Jateng," jelas Budi.

Tujuan kegiatan ini, lanjut Budi, adalah untuk edukasi masyarakat, mengakomodir seniman, serta memberikan pendidikan dari anak-anak hingga dewasa. 

"Ada kolaborasi antara seniman, pemerintah, dan masyarakat agar budaya ini tetap terpelihara," tambahnya.

Dalam festival tersebut, tiga juri yang menilai penampilan peserta adalah Bambang Priyambodo dari Sanggar Greget, Slamet MD, M.Hum dari ISI Surakarta, dan Antonius Wahyu Sutrisna dari Dedek Gamelan Orchestra. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Uswatun Hasanah, turut hadir memberikan sambutan dan membuka acara.