Assalamu’alaikum Kang Dedi Mulyadi

Jayanto Arus Adi, Pemimpin Redaksi RMOLJawaTengah.
Jayanto Arus Adi, Pemimpin Redaksi RMOLJawaTengah.

Nomor Siji Kang Dedi, Nomor Loro Kang Dedi, Nomor Telu Kang Dedi, Pokoke Tetap Kang Dedi….


Begitu senandung Paidul ke mana-mana dilantunkan. Eloknya dia menyanyikan lirik itu dengan suara lantang. Dia (Padiul) rupanya sedang asyik masuk, jatuh hati pada Dedi Mulyadi. 

Bungah, girang tidak tidak bermuram durja alias suntuk, wajahnya ditekuk. Apa yang membuat dia berubah, dan jadi girang begitu?

Paidul ternyata sedang kasmaran, dia punya idola baru. Sang idola Paidul itu adalah Dedi Mulyadi. Mantan Bupati Purwakarta, yang kini naik tahta menjadi orang nomor satu di Provinsi Pasundan, ini yang jadi tokoh favoritnya.

Paidul kesengsem dengan kiprah Kang Dedi yang dia ikuti di layar kaca, juga di media sosial. Unggahan-unggahan Kang Dedi di media sosial banyak diikuti.

Puja-puji tak luput dilakukan, seperti memberi jempol atas kebijakannya memerintahkan pembongkaran Hibisc Fantasy Puncak. Ini (Hibisc Fantasy Puncak) tempat yang dibangun untuk destinasi wisata.

Menyikapi sejawatnya yang ngefans berat sama Kang Dedi, Paijan merespon sebaliknya. ‘’Saya maah santai aja, ngapain juga buru -buru kasih puja-puji, pamali atuuuh,’’ujar Paijan tanpa beban.

‘’Memang kenapa? Jangan bandingkan kebijakan Kang Dedi dengan tokoh-tokoh lain yang demen pencitraan,’’ bela Paidul langsung bereaksi.

Dedi, kata Paidul lagi, telah teruji. Dia sampai di titik ini karena pergulatan, juga perjuangan yang dimulai dari nol. Dia itu dulu pernah jadi tukang ojek. Artinya paham dan tahu kondisi masyarakat bawah.

Kalau sekarang jadi Gubernur karena buah perjuangannnya. ‘’Itu yang namanya Manjada Wa Jada,’’ sergah Paidul tak terima idolanya dikritik.

Tukang Ojek Jadi DPR

Cerita Kang Dedi pernah jadi tukang ojek itu fakta. Nasib baik karena kerja keras menghantarkan jadi politisi. Kita tidak bisa melihat sosoknya yang sekarang. Perjalanan hidupnya tak lepas dari jatuh bangun.

Dia sempat terpuruk ditinggal istrinya, Sri Muliawati yang meninggal karena sakit. Dedi kemudian menikah lagi dengan Mojang Priangan yakni Anne Ratna Mustika tapi bahtera rumah tangganya kandas.

Tahun 1999 dia terpilih jadi anggota DPRD Purwakarta. Dari panggung politik kiprahnya melebar ke ranah eksekutif jadi Wakil Bupati tahun 2003.

Periode berikutnya 2008-2015 dan 2013-2016 menjadi Bupati Purwakarta. Ikhwal itu yang membuat Paidul lantas ngefans dan menjadikannya idola. Apalagi Pilgub lalu Dedi Mulyadi meraih suara signifikan sehingga menghantarkan jadi Gubernur Jawa Barat.

Euforia Paidul, ternyata tak serta merta membuat Paijan mengamini. ‘’Sekarang ini era disrupsi, media sosial mudah menghipnotis kita. Ingat dulu ada Norman Kamaru, polisi dari Sulawesi. Ingat juga belum begitu lama ada Farel Prayoga. Mereka seperti meteor, melejit tapi sebentar hilang,’’ ujar Paijan. 

‘’Jadi maaf-maaf ya, bukannya saya meragukan Kang Dedi, tetapi masih sbutuh waktu untuk memberi afirmasi,’’tambah Paijan.

Memang, harus diakui mencermati gebrakan Dedi Mulyadi begitu menginspirasi. ‘’Ya, soal itu (menginspirasi) saya setuju. Tetapi itu lebih disebabkan karena pejabat-pejabat sekarang miskin keteladanan,’’ sergah Sutar ikut menimpali.

Artinya, dalam berbagai hal, kita sering dibuat masgul betapa mudahnya pejabat-pejabat berubah haluan. ‘’Beda saat nyalon, dan beda ketika sudah jadi,’’ kata Sutar.

Itu malah menjadi kecenderungan jamak. Ketika mereka itu sedang berjuang, humble-nya minta ampun. Begitu di-chat (pakai WhatsApp), saat tidak bisa merespon, setelahnya segera memberi jawab.

‘’Maaf, maaf tadi sedang meeting, sedang ada acara, dan lain sebagainya,’’ begitu kata Sutar mencoba memberi analog.

”Tetapi amit-amit, maaf, setelah cita-citanya tercapai, ditelpon tidak diangkat, pesan juga sekadar dibaca, jawaban nanti dulu.”

Sehari, dua hari, atau tetiba ada kepentingan yang berkelindan mereka (para pejabat itu) mencoba berbaik-baik lagi. ‘’Ya, saya paham, tetapi Kang Dedi beda. Kang Dedi itu orisinal, bukan casting-casting begitu, apalagi untuk  pencitraan. Amit-amit,’’ kata Paidul sungguh-sungguh mencoba memberikan pembelaan.

Fenomena pejabat dalam narasi yang sedang digunjingkan Paidul, Paijan dan Sutar adalah potret kita hari-hari ini. Publik dahaga dan merasa mendapatkan asupan dari langkah-langkah yang dilakukan Dedi Mulyadi. Benar, bahwa untuk menjadi sebuah portofolio perlu waktu untuk mengujinya.

Namun, gebrakan Gubernur Bumi Pasundan ini harus diakui tak banyak dilakukan pejabat yang lain.

Anak kolong, putra tentara, sang bapak bernama Sahlin Ahmad Suryana memberi insight untuk beberapa hal. Keberaniannya memerintahkan membongkar Hibisc Fantasy Puncak, Wahana Rekreasi yang dibangun di kawasan Puncak memberikan pesan mendalam.

Praktik eksplorasi lahan yang ugal-ugalan mengakibatkan air dari puncak meluncur sekehendakknya ke bawah. Akhirnya Jakarta dan sekitarnya kebanjiran.

Keliru mengatakan air tidak ber-KTP. Karena air dari kawasan Puncak ketika bertandang ke Jakarta, atau kemarin meluluh lantakkan Bekasi semestinya tidak datang di pemukaan.

Tetapi mesti masuk ke bumi dulu, dan memberi kehidupan dengan mengalir pelan melalui perut bumi. Itu yang benar. Sama, angin juga begitu. Tidak ugal-ugalan meluncur dari puncak, tetapi berhembus lembut ke bawah.

Nah, ini baru yang bener. Tetapi salah siapa, hutan-hutan digunduli. PTPN (Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara) mengobral izin membuat pohon-pohon ditebangi. Benar kritik Kang Dedi, mestinya oknum-oknum pejabat PTPN diperkarakan saja. Mereka sembrono memberi izin perubahan kawasan yang mestinya hutan, jadi area publik.

Jadi, hatur nuwun Kang Dedi, sudah memberi pelajaran dan renungan, untuk menjadi koreksi bersama.

‘’Tuuh, benar kan? Apa kata saya (Paidul) Kang Dedi memang sungguh-sungguh berbuat. Tidak ada maksud membuat sensasi,’’ terang Paidul lagi.

Terobosan Dedi Mulyadi soal membebaskan pajak kendaraan bermotor yang bertahun-tahun mati, tak luput jadi perhatian Paidul. Untuk diketahui bagi pemilik kendaraan bermotor yang pajaknya tidak dibayar alias nungga diberikan keringanan.

Intinya tunggakan pajak yang lalu-lalu diputihkan, tapi ke depan harus tertib. Tidak hanya itu (pajak motor), soal anak jalanan dan orang terlantar jadi perhatiannya juga.

Celotehan Paidul, Paijan dan Sutar mengusik perhatian saya juga. Di Catatan ini (Jayanto) saya menoreh renungan kecil.

Salah satu yang perlu ditunaikan dari pemimpin-pemimpin kita adalah keteladanan. Saya setuju kita lelah mendengar omon-omon dan khotbah yang menyitir ayat-ayat di Kitab Suci. Ingat kita pernah punya pemimpin yang menjadi representasi simbolik wong cilik, Pak Jokowi.

Ya, beliau (Pak Jokowi) adalah kisah tukang kayu yang akhirnya jadi Presiden. Padanya kita mendapat Pelajaran.

Hari ini kita sedang belajar juga, seperti Paidul terkesima pada Dedi Mulyadi. Pada waktu yang lain kita belajar juga pada Anies, Ganjar dan Prabowo. Satu pesan sekali lancung ke ujian selamanya orang tidak percaya.

Assalamualaikum Kang Dedi, anda sedang memahat zaman, lukislah dengan tinta emas dari hati, bukan untuk pencitraan, waktu adalah sang pengadil seutuhnya. Tabik.

Jayanto Arus Adi adalah Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers. Aktif di Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) - Konstituen Dewan Pers dan duduk sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan. Memimpin MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia), organisasi yang menaungi penggiat media berbasis Android. Mengelola RMOL Jateng, Media Online yang sangat berpengaruh di Jawa Tengah sebagai Pemimpin Umum dan Redaksi. Aktif juga di Satu Pena, Organisasi Penulis yang didirikan Deny JA. Mengajar Jurnalistik di beberapa Perguruan Tinggi. Di antara aktivitas tersebut aktif menjadi konsultan politik dan media.